nama: azhari au
alamat: nagan raya, aceh
Jumat, 25 November 2016
Sabtu, 19 November 2016
prosedur pemeriksaan fisik umum lengkap
Prosedur pemeriksaan
fisik umum lengkap
Prosedur pemeriksaan
fisik umum (general survey)
Definisi
Memberikan penilaian terhadap
tanda-tanda vital, tinggi dan berat badan, kebiasan serta penampakan klien
secara umum. Dalam melakukan pemeriksaan fisik, terdapat empat macam cara dalam
memperoleh data pengkajian, yaitu:
1. Inspeksi
Inspeksi adalah
suatu tindakan yang dilakukan perawat dengan melakukan indra penglihatannya
untuk mengamati bagian tubuh yang diperiksa. Oleh karena itu, pencahayaan yang
cukup sangat diperlukan dalam melakukan inspeksi sehingga data yang didapat
akan menghasilkan data yang akurat, misalnya ketepatan dalam membedakan warna,
ukuran dalam bentuk tubuh, posisi, kesumetrisan tubuh dan kebersihan tubuh
klien. Pencahayaan yang cukup juga digunakan untuk membedakan dan membandingkan
hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan tubuh yang lain, misalnya
sklera mata yang berwarna kuning (ikterus), adanya struma dileher, warna kulit
kebiruan (sianosis), dll.
Cara melakukan
pemeriksaan dengan cara inspeksi adalah:
a.
Berikan klien posisi senyaman mungkin dan
memudahkan kerja perawat. Posisi klien dapat duduk, berdiri atau tidur.
b.
Buka area tubuh klien yang akan diperiksa. Klien
dapat membuka sendiri pakaiannya atau jika tidak mampu dapat dibantu oleh
perawat. Sebaiknya pakaian tidak dibuka sekaligus, namun dibuka seperlunya
sedangkan bagian lain dapat ditutupi dengan selimut.
c.
Bandingkan area tubuh klien yang berlawanan
untuk menilai kesimetrisan dan adanya abnormalitas.
d.
Dokumentasi hasil pemeriksaan.
2. Palpasi
Palpasi adalah
suatu tindakan yang dilakukan oleh perawat dengan melakukan indra peraba dengan
cara meraba dan menekan bagian tubuh dengan menggunakan jari atau tangan. Jaru
tangan dan tangan adalah instrumen yang sangat sensitif untuk digunakan dalam
mengumpulkan data, misalnya tentang : temperatur, turgor, bentuk, kelembaban,
getaran atau vibrasi, ukuran dan konsentrasi.
Cara melakukan
pemeriksaan dengan cara palpasi adalah :
a.
Berikan posisi klien senyaman mungkin tanpa
menyulitkan kerja perawat.
b.
Pastikan klien dalam keadan rilex dengan posisi
yang nyaman untuk menghindari ketegangan otot yang dapat mengganggu hasil
pemeriksaan.
c.
Minta klien untuk menari nafas dalam agar
meningkatkan relaksasi otot.
d.
Lakukan palpasi dengan perlahan-lahan engan
tekanan ringan dan sebentar- sebentar. Ingat, kuku jari-jari perawat harus
pendek dan kondisi tangan hangat serta kering. Palpasi juga harus dilakukan
dengan hati-hati terutama jika dicurigai ada fraktur tulang. Hindari penekanan
yang berlebihan.
e.
Palpasi daerah yang dicurigai. Jika ditemukan
nyeri tekan maka menandakan adanya kelaina.
f.
Lakukan palpasi ringan apabila memerisa
organ/jaringan yang dalamnya kurang dari 1 cm
g.
Lakukan palpasi agak dalam apabila memerisa
organ/jaringan yang kedalaman 1- 2,5 cm
h.
Lakukan palpasi bimanual apabila melakukan
pemeriksaan dengan kedalaman lebih dari 2,5 cm dengan cara menggunakan keduan
tangan dimana satu tangan direlaksasi dan diletakkan dibawah organ/jaringan
tubuh, sedangkan jaringan lain menekan kearah tangan yang dibawah untuk
mendeteksi karakteristik organ/jaringan.
i.
Rasakan dengan seksama kelainan organ/jaringan,
ada nodul, tumor gerak/ tidak dengan konsistensi padat/kenyal, bersifat
kasar/lembut, ukurannya dan ada/ tidaknya getaran/ trill, serta rasa nyeri
raba/ tekan.
j.
Lakukan palpasi disemua area yang diperiksa.
k.
Dokumentasi hasil pemeriksaan.
3. Perkusi
Perkusi adalah
suatu tindakan yang dilakukan perawat dengan car mengetuk dengan menggunakan
jari perawat di area permukaan tubuh tertentu untuk membandingkan dengan bagian
tubuh lainnya dengan tujuan menghasilkan suara.
Jenis suara
|
karakteristik
|
Sonor
|
Suara perkusi
jaringan yang normal
|
Redup
|
Suara perkusi jaringan yang lebih
padat, misalnya di daerah paru-paru pada pneumia.
|
Pekak
|
Suara perkusi jaringan yang padat seperti
pada perkusi daerah jantung, perkusi daerah hepar.
|
Hipersonor/timpani
|
Suara perkusi pada daerah yang lebih
berongga kosong, misalnya daerah caverna paru, pada klien asma kronik.
|
a.
Berikan posisi klien senyaman mungkin tanpa
menyulitkan kerja perawat.
b.
Pastikan klien dalam keadan rilex dengan posisi
yang nyaman untuk menghindari ketegangan otot yang dapat mengganggu hasil
pemeriksaan.
c.
Minta klien untuk menari nafas dalam agar
meningkatkan relaksasi otot.
d.
Lakukan perkusi secara seksama dan sistematis yaitu
dengan:
1.
Metode langsung yaitu melakukan perkusi atau
mengetukkan jari tangan langsung dengan menggunakan 1 atau 2 ujung jari.
2.
Metode tidak langsung dengan cara sebagai
berikut :
Ø
Jari tangan kiri sebagai fleksimeter diletakkan
dengan lembut diatas permukan tubuh, upayakan telapak tangan dan jari-jari lain
tidak menempel pada permukaan tubuh.
Ø
Ujung jari tengan dari tangan kanan sebagai
flektor, untuk memukul atau mengeti persendian distal dari jari tengah tangan
kiri.
Ø
Pukulan harus cepat, tajam dengan lengan tetap/
tidak bergerak dan dan pergelangan tangan relak.
Ø
Bandingkan bunyi frekuensi yang akurat.
e.
Bandingkan atau perhatikan bunyi yang dihasilkan
oleh perkusi
Jeni bunyi
|
karakteristik
|
Bagian yang diperkusi
|
Timpani
|
Suara yang keras, nada tinggi dengan
waktu agak lama, kualitas suara seperti drum
|
Diatas lambung dan intestinal
|
Resonan
|
Intesitas menengah, nada rendah, waktu
lama, kualitas bergema
|
Diatas paru normal
|
Hiperesonan
|
Suara yang lebih keras daripada
timpani, mempunyai intensitas amat keras, waktu lebih lama, kualitas rendah
|
Pada intestin yang mengalami distensi
dan paru yang mengalami empisema
|
Pekak/dullness/redup
|
Suara yang singkat, mempunyai intensitas
lembut sampai menengah, nada tinggi, waktu agak lama kualitas seperti petir
|
Diatas hati, limfa atau kandung kemih
yang mengalami distensi
|
Flat/kempes
|
Suara yang sangat halus dan pendek,
bila tidak ada udara pada struktur
|
Otot, tulang, massa tumor
|
4. auskultasi
Auskultasi adalah tindakan yang
dilakukan perawat saat melakukan pemeriksaan fisik dengan cara mendengar suara
yang dihasilkan oleh tubuh untuk mendeteksi adanya kelainan dengan cara
membandingkan dengan bunyi normal. Hal-hal yang didengarkn adalah bunyi jantung,
suara nafas, dan bisng usus. Penilaian pemerisaan auskultasi meliputi:
1. Frekuensi
yang menghitung jumlah getaran permenit.
2. Durasi
yaitu lama bunyi yang terdengar.
3. Intensitas
bunyi yaitu ukuran kuat/lemahnya suara.
4. Kualitas
yaitu warna nada/variasi suara.
Suara yang
abnormal dari hasil pemeriksaan fisik dengan teknik auskultasi dapat dilihat
pada tabel dibawah ini.
Jenis suara
|
karakteristik
|
Contoh
|
Rales
|
Suara yang dihasi dari eksudat lengket
saat saluran-saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus,
sedang, kasar)
|
klien dengan pneumonia, TBC
|
Ronchi
|
Nada rendah dan
sangat kasar terdengar baik saat inspirasi maupun ekspirasi. Ciri khusus
ronchi adalah akan hilang bila klien batuk.
|
Klien dengan edema paru
|
Wheezing
|
Bunyi yang terdengar “ngiii....k” bisa
dijumpai pada fase inspirasi maupun ekspirasi
|
Klien dengan bronchitis akut, asma
|
Friction rub
|
Bunyi yang terdengat “kering” seperti
suara gosokan amplas pada kayu
|
Klien dengan peradangan pleura
|
Prosedur pemeriksaan
fisik umum yang benar
1.
|
Persiapan alat
·
Meteran
·
Pen light atau senter
·
Pulpen/pensil
·
Kapas, sarung tangan bersih, spatel, bengkok,
timbangan badan
·
Tensi meter
·
Stetoskop
·
Jam tangan detik/stop watch
·
Sarung tangan bersih
|
2.
|
Persiapan lingkungan
·
Jaga privasi klien
|
3.
|
Pesiapan klien
·
Jelaskan tujuan dan prosedur yang akan
dilakukan
·
Atur posisi klien senyaman mungkin
|
4.
|
Pelaksanaan
·
Cuci tangan
·
Pakai sarung tangan bersih
|
5.
|
Menilai tingkat kesadaran
·
Kaji tingkat kesadaran subjektif
·
Kaji tingkat kesadaran berdasarkan GCS
|
6.
|
Menilai penampilan umum
·
Identifikasi status penampilan kesehatan :
sakit ringan, sedang atau berat
·
Identifikasi warna kulit
·
Ukur tinggi badan (dalam cm) dan bentuk tubuh
(tinggi atau pendek)
·
Ukur berat badan (kg)
·
Identifikasi ekspresi wajah : adakah
tanda-tanda stres, senang dll.
·
Identifikasi tanda berjalan dan keseimbangan,
cara berbicara, cara berpakaian dan berhias, kebersihan secara umum, adanya
bau badan mulut.
|
7.
|
Pemeriksaan kulit
·
Inspeksi: warna, lokasi lesi (jika ada),
bentul (linear, berkumpul atau dermatomal), tipe (makula, papula, pustula,
bula atau tumor), warna.
·
Palpasi: kelembaban, suhu, tekstur, turgor
kulit, mobilitas kulit (biasanya menurun pada pasien yang edema).
|
8.
|
Pemeriksaan kuku
·
Inspeksi: warna, bentuk, adanya lesi
·
Palpasi: bentuk
|
9.
|
Pemeriksaan kepala dan rambut
·
Inspeksi: bentuk, simetris, adanya benjolan,
lesi, rambut(warna, distribusi, tekstur, adanya ketombe dan kutu, kuantitas).
·
Palpasi: benjolan nodul, deformitas (fraktur),
rambut (tekstur).
|
10.
|
Pemerisaan mata
·
Inspeksi: simetris, alis mata, kelopak mata (lingkaran
hitam dimata, odema), warna konjungtiva dan sklera.
·
Pupil (ukuran, bentuk, simetrisitas, reflek
pupil, adanya reaksi dekat).
·
Pemeriksaan ketajaman penglihatan. Minta klien
untuk membaca koran atau majalah.
·
Pemeriksan lapang pandang. Minta klien berdiri
atau duduk 60 cm berhadapan dengan perawat dengan mata perawat sejajar dengan
mata klien. Minta klien menutup salah satu mata, sejajar dengan salah satu
mata perawat yang juga ditutup. Perawat menggerakkan tangan kearah superior,
inferior, temporal dan nasal. Klien mengikuti arah gerakan.
|
11.
|
Pemerisaan mulut
·
Inspeksi:
warna mukosa, warna bibir, gigi (kelengkapan, karies, karang gigi,
infeksi), gusi (warna , lesi, pendarahan, tonus), tonsil (warna, pembengkakan).
·
Palpasi: bibir dan lidah (nodul dan massa).
|
12.
|
Pemerisaan hidung dan tonus
·
Inspeksi: bentuk, mukosa, sekret, defiasi
tulang, polip, pemebngkakan.
·
Palpasi: sinus (maksilaris, frontalis,
etmoidalis, spenoid)
|
13.
|
Pemerisaan telinga
·
Inspeksi daun telinga(simetris, warna, ukuran,
adanya inflamasi, lesi, bengkak) inspeksi liang telinga (serumen, sekret).
·
Palpasi daun telinga (tekstur, adanya lesi).
·
Pemeriksaan kekuatan pendengaran. Minta klien
untuk menutup mata. Jarak antara klien dan perawat 15-60 cm. Perawat
melafalkan dua suku kata dengan suara keras, lembut dan berisik. Minta klien
untuk mengulangi ucapan perawat. Jika diduga terdapat penurunan kekuatan
pendengaran, lakukan tes weber dan rinne.
·
Tes weber : pegang garpu penala dan hentakkan
di tulang telapak tangan kemudian letakkan garpu penala di tengah atas kepala
klien atau di dahi. Minta kepada klien mendengan dan merasak getaran suara
dan catat diarea telinga mana terdengar (bisa satu sisi atau dua sisi
telinga).
·
Tes rinne: pegang garpu penala dan hentak di
tulang telapak tangan. Letakkan garpu tala di prosesus mastoideus sampai
klien tidak lagi mendengar suaranya. Lalu pindahkan dengan cepat garpu tala
tersebut kedekat liang telinga. Pastikan apakah klien dapat medengarnya.
|
14.
|
Pemerisaan leher
·
Inspeksi: pembengkakan, pembesaran vena, lesi.
·
Palpasi: posisi trakea, pembesaran KGB.
·
Inspeksi: simetris, lesi, putting, aerola,
sekret.
·
Palpasi: massa, pembesaran KGB.
|
15.
|
Pemeriksaan thorax
·
Inspeksi: warna kulit dada (apakah sama dengan
warna kulit lainnya), bentuk dada, pernafasan ( jenis, irama, kedalaman),
kesimetrisan dada saat istirahat dan saat menarik nafas, ekspansi dada, ada
tidaknya massa/benjolan, adanya hematom dan luka.
·
Palpasi: temperatur dan pengembangan paru,
vokal fremitus, adanya nyeri tekan, adanya massa.
·
Perkusi: seluruh lapangan paru
·
Auskultasi: suara normal dan abnormal
|
16.
|
Perimeksaan
jantung
·
Palpasi: nadi, auskultasi: irama jantung,
suara jantung.
|
17.
|
Pemeriksaan abdomen
·
Inspeksi: simetris, bentuk/ kontur, adanya
pelebaran pembuluh darah, bentuk umbilikus.
·
Auskultasi: bising usus selama 1 menit
(menggunakan stetoskop diafragma, mulai dari kuadran kanan bawah) dan bunyi
pembuluh darah aorta, arteri renalis kanan kiri, arteri iliaka kanan kiri (mengngunakan
stetoskop bell, amati adanya bunyi friction rub).
·
Palpasi : palpasi semua kuadran (kaji adanya
hematomegali dan splenomegali, nyeri tekan).
·
Palpasi hepar : letakkan tangan kiri dibawah
torak posterior kanan pada ICS 11-12(area pinggang). Letakkan tangan kanan
pada kuadran kanan atas atau di bawah batas bawah hepar kemudian tekan ke
dalam dan ke atas sepanjang batas tulang rusuk. Normalnya, hepar tidak
teraba.
·
Palpasi limpa : pembesaran limpa diukur dengan
menggunakan garis schuffner. Dimulai dari region iliaka kanan (titik
schuffner 8), melewati umbilikus, melewati lengkung iga kiri (titik schuffner
1).
·
Instruksikan klien untuk inspirasi dalam
melalui mulut (agat diafragma akan turun dan limpa bergerak kearah
ujung-ujung jari tangan pemeriksa).
·
Perkusi : seluruh kuadran (adanya nyeri ketok).
|
18.
|
Pemerisaan genetalia
·
Pria : kebersihan, testis, nodul, lesi, cairan
yang keluar, peradangan.
·
Wanita : kebersihan klitoris, labia mayor dan
minor, nodul, lesi dan cairan yang keluar.
·
Palpasi : massa.
|
19.
|
Pemeriksaan anus
·
Inspeksi : kulit, pembesaran pembuluh darah
(hemoroid), polip, sekret.
·
Palpasi : massa, spingter ani.
|
20
|
Pemeriksaan ekstremitas
·
Inspeksi : pergerakan sendi, lesi, massa,
tonus otot, warna kulit.
·
Palpasi : tenperatur, oedema.
|
21.
|
Mengukur suhu aksila
·
Membuka pakaian klien
·
Mengeringkan ketiak klien dengan menggunakan
tissue.
·
Meletakkan termometer dibawah aksila dan
tangan disilangkan. Tahan selama 5 menit.
·
Menggangkat termometer dan membersihkannya.
·
Membaca termometer sejajar dengan mata.
·
Bantu klien mengunakan bajunya.
|
22.
|
Menghitung nadi radial (perifer)
·
Letakkan 2 ujung jari perawat diatas nadi
radial. Tekan nadi radial dengan tekanan yang cukup.
·
Setelah didapatkan nadinya teratur, mulai
menghitung dalam 15 detik.
·
Jika tidak teratu maka hitung dalam 1 menit.
|
23.
|
Menghitung pernafasan
·
Letakkan tangan perawat didada klie, hitung
frekuensi nafas selama 1menit. Perhatikan irama dan kedalaman
|
24.
|
Mengukur tekanan darah
·
Tentukan ukuran manset yang tepat, lebar
kantong yang dapat dikembangkan didalam manset harus mencapai 40% dari
lingkar titik tengah lengan dimana manset digunakan.
·
Tentukan sisi terbaik untuk menggunakan
manset. Hindari ekstrimitas dengan jalur IV, trauma, atau tempat yang
mengalami trauma atau paralisis.
·
Lilitkan manset dengan bagian sentral manset
diatas arteri brachialis 2-3cm di atas antecubital.
·
Letakkan manometer sejajar dengan mata.
·
Tutup katup spigmomanometer
·
Pasang pasang stetoskop di telinga dengan
benar.
·
Letakkan diafragma stetoskop di atas arteri
brachialis dengan tepat dan tidak menyentuh cuff atau baju.
·
Palpasi arteri radialis dengan tiga ujung
jari.
·
Pompa dan naikkan air raksa hingga 30 mmHg
lebih tinggi dari saat nadi tidak terdengar (sistolik).
·
Turunkan air raksa secara perlahan dengan
kecepatan 2-3mmHg per detik dan identifikasi bunyi pertama terdengar kembali.
·
Turunkan air raksa sampai angka nol.
·
Kempiskan manset dan tunggu 30 detik bila akan
mengulang prosedur.
·
Lepaskan manset dari tangan pasien.
|
25.
|
Rapikan alat dan klien,
lepaskan sarung tangan,
cuci tangan,
dokumentasi
|
Sekian dulu postingan dari saya mudah-mudahan termanfaat,
banyak-banyaklah membaca buku wahai sobat
Langganan:
Postingan (Atom)